A. Rangkaian
Kegiatan
1. Pembukaan
Kegiatan
Pada
hari Jumat, 17 Oktober 2025, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Himpunan
Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam (HMJ PAI) UIN Siber Syekh Nurjati
Cirebon periode 2025–2026 telah melaksanakan kegiatan Kabilah Episode DILAN
(Diskusi dan Jalan-Jalan) yang bertempat di Klenteng Talang, Kota Cirebon.
Kegiatan ini mengusung tema “Belajar Hidup Berdampingan: Moderasi Beragama
dalam Sejarah Klenteng Talang.”.
2. Isi
Kegiatan
Kegiatan
dimulai dengan kunjungan berkeliling area Klenteng Talang yang dipimpin oleh
pemandu Klenteng Talang. Pemandu memberikan penjelasan yang sangat rinci
mengenai sejarah dan makna simbolik dari bangunan tersebut. Berdasarkan
penjelasannya, Klenteng Talang Cirebon dibangun sekitar tahun 1415 dan
merupakan salah satu klenteng tertua di Indonesia. Pada awalnya, bangunan ini
berfungsi sebagai kantor perwakilan perdagangan Tiongkok serta tempat tinggal
pejabat yang disebut “Toalang”. Seiring berjalannya waktu, bangunan tersebut
beralih fungsi menjadi tempat ibadah dan kini dikenal sebagai simbol toleransi
beragama, karena pada masa lampau juga sempat digunakan sebagai masjid oleh
masyarakat Tionghoa Muslim, sebelum akhirnya menjadi klenteng Konghucu.
Saat
pertama kali memasuki kawasan klenteng, para peserta disambut oleh lambang
Konghucu berupa Genta, yang menjadi simbol ajaran moral dan kebijaksanaan dalam
agama Konghucu. Hingga kini, Klenteng Talang merupakan satu-satunya klenteng
beraliran Konghucu di wilayah Cirebon. Selain difungsikan sebagai tempat
ibadah, klenteng ini juga menjadi pusat berbagai kegiatan kebudayaan, seperti
Taichi, wushu, dan latihan barongsai.
Ornamen-ornamen
di dalam klenteng memiliki makna filosofis yang mendalam. Salah satunya adalah
empat patung monyet yang melambangkan ajaran moral dalam Konghucu, yaitu untuk
tidak mendengar, tidak melihat, tidak mengucapkan, dan tidak melakukan hal-hal
yang tidak susila.
3. Penutupan
Kegiatan
Melalui
kegiatan ini, peserta memperoleh wawasan berharga mengenai pentingnya moderasi
beragama, toleransi, dan pelestarian budaya dalam kehidupan masyarakat multikultural,
khususnya di kota Cirebon.


Komentar
Posting Komentar